VIRALTIVI.COM – Tanjung Jabung Barat Sebuah insiden tragis yang menuai sorotan tajam mengguncang wilayah Pengabuan, Tanjung Jabung Barat. Jembatan dermaga penyeberangan roda empat di Sungai Limau, Desa Sungai Landak, mendadak ambruk total pada Rabu (20/5) siang sekitar pukul 11.15 WIB.
Ironisnya, infrastruktur yang runtuh seketika ini merupakan proyek yang menelan anggaran fantastis dari APBD Tanjab Barat sebesar Rp 5 Miliar. Proyek tersebut dikerjakan pada tahun 2024 dan baru saja dinyatakan selesai pada tahun 2025 lalu.
Kini, konstruksi beton yang diharapkan bertahan bertahun-tahun itu justru hancur, menghempaskan dua pekerja pengelas ke dalam pusaran arus sungai yang sangat deras.
Petaka ini bermula saat dua pekerja tengah sibuk melakukan aktivitas pengelasan untuk memperbaiki struktur jembatan dermaga di Dusun Karya Baru. Tanpa ada tanda-tanda peringatan atau guncangan awal, tiang penopang utama diduga gagal menahan beban dan langsung ambruk ke sungai.
Kedua pekerja yang berada di atas bangunan tidak sempat menyelamatkan diri. Mereka langsung terlempar dan tenggelam bersama material reruntuhan bangunan jembatan yang terseret arus.
Robohnya dermaga ini langsung memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat terkait kualitas pengerjaan proyek.
Nilai Proyek: Menggunakan dana APBD Tanjab Barat senilai Rp 5 Miliar.
Masa Kerja: Mulai dikerjakan pada tahun 2024 dan selesai total pada tahun 2025.
Ambruknya dermaga ini otomatis memutus akses utama bagi kendaraan roda empat di wilayah Pengabuan, mematikan urat nadi perekonomian warga yang bergantung pada jalur penyeberangan ini.
Hingga berita ini diturunkan, fokus utama di lapangan terbagi antara penyelamatan korban dan pengamanan area:
Pencarian Skala Besar: Tim SAR gabungan dari Pos SAR Kuala Tungkal, TNI, Polri, dan warga setempat langsung menerjunkan perahu karet untuk menyisir aliran Sungai Limau.
Nasib Korban: Kedua pekerja pengelas tersebut dilaporkan masih hilang dan dalam proses pencarian intensif di sepanjang aliran sungai yang deras.
Pihak kepolisian setempat kini telah memasang garis polisi di lokasi kejadian dan melarang warga mendekat demi keselamatan. Penyelidikan mendalam langsung diarahkan pada aspek teknis bangunan.
Mengingat proyek ini baru selesai tahun lalu (2025) dengan anggaran miliaran rupiah, fokus pemeriksaan polisi kini mengarah pada kelayakan struktur, spesifikasi material, serta faktor pemicu runtuhnya bangunan saat proses pengelasan berlangsung.











