Opini oleh Elas Anra Dermawan, SH
(Founder LBH NADI & Advokat)
VIRALTIVI.COM – Belakangan ini dunia menyaksikan wafatnya sejumlah tokoh penting di berbagai negara. Di tingkat global, wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, mengguncang konstelasi geopolitik Timur Tengah. Sementara di Indonesia, bangsa ini juga berduka atas wafatnya Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, seorang tokoh militer dan negarawan yang menjadi bagian penting perjalanan politik nasional.
Fenomena ini bukan sekadar rangkaian kabar duka lintas negara. Dalam perspektif politik dunia dan hukum internasional, peristiwa tersebut mencerminkan satu fase besar: transisi kepemimpinan global dan pergeseran keseimbangan kekuasaan dunia.
Wafatnya Tokoh Global dan Dampak Geopolitik
Ayatullah Ali Khamenei bukan hanya pemimpin negara, tetapi simbol ideologi politik Republik Islam Iran selama lebih dari tiga dekade. Wafatnya figur sentral seperti Khamenei berpotensi menciptakan kekosongan strategis dalam struktur kekuasaan Iran, sekaligus mempengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah yang selama ini berada dalam ketegangan geopolitik.
Dalam hukum internasional, peristiwa kematian seorang pemimpin akibat konflik militer menimbulkan pertanyaan serius mengenai:
• prinsip kedaulatan negara,
• larangan penggunaan kekuatan antarnegara sebagaimana diatur dalam Piagam PBB,
• serta legitimasi tindakan militer dalam perspektif hukum internasional modern.
Situasi ini menunjukkan bahwa hukum internasional tidak hanya diuji oleh teks normatif, tetapi oleh realitas kekuatan politik global.
Wafatnya Try Sutrisno dan Refleksi Politik Nasional
Di sisi lain, wafatnya Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno membawa refleksi tersendiri bagi Indonesia. Ia merupakan representasi generasi kepemimpinan yang lahir dari era militeristik menuju masa transisi demokrasi.
Kepergian tokoh nasional seperti Try Sutrisno bukan hanya kehilangan figur sejarah, tetapi juga penanda berakhirnya satu generasi politik Indonesia yang membentuk fondasi stabilitas negara pada masa tertentu.
Bangsa yang dewasa secara politik adalah bangsa yang mampu membaca sejarahnya secara objektif—menghormati jasa tanpa kehilangan daya kritis terhadap perjalanan demokrasi.
Hukum Internasional di Tengah Transisi Kepemimpinan Dunia
Dalam prinsip continuity of state, negara tetap berjalan meskipun pemimpinnya wafat. Namun realitas politik menunjukkan bahwa stabilitas hukum sering kali bergantung pada stabilitas kepemimpinan.
Kematian tokoh besar dapat memicu:
• renegosiasi hubungan diplomatik,
• perubahan arah kebijakan luar negeri,
• hingga eskalasi konflik regional.
Dunia saat ini memasuki fase multipolar, di mana kekuasaan tidak lagi terpusat pada satu blok dominan. Transisi elite global menjadi lebih kompleks karena melibatkan kepentingan ekonomi, militer, teknologi, dan energi secara bersamaan.
Pertanda Zaman, Bukan Kebetulan Sejarah
Fenomena wafatnya tokoh-tokoh besar di berbagai negara bukanlah pertanda mistis, melainkan indikator bahwa dunia sedang mengalami pergantian generasi kepemimpinan.
Generasi pemimpin yang lahir dari era Perang Dingin dan awal globalisasi perlahan digantikan oleh elite baru dengan pendekatan politik yang lebih pragmatis dan transaksional.
Setiap transisi seperti ini selalu membawa dua kemungkinan:
• stabilitas melalui reformasi, atau
• ketidakpastian akibat perebutan pengaruh global.
Penutup
Wafatnya Ayatullah Ali Khamenei dan Try Sutrisno mengingatkan kita bahwa sejarah dunia bergerak melalui pergantian figur, tetapi dampaknya jauh melampaui individu itu sendiri.
Dunia tidak sedang berhenti.
Dunia sedang menata ulang keseimbangan kekuasaan dan legitimasi hukum internasional.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa supremasi hukum internasional dan kedewasaan politik nasional harus berjalan beriringan agar perubahan zaman tidak berubah menjadi konflik berkepanjangan.








